• WAZAN, MAUZUN DAN TASHRIF
    Vol 1 No 123 (2000)

     

    1. Latar Belakang

    Bahasa Arab memegang peranan penting dalam peradaban dan perkembangan Islam karena merupakan bahasa Al-Quran dan mengingat banyaknya ilmuan islam yang menulis karyanya dengan bahasa arab. Hal tersebut secara tidak langsung menuntut kita untuk mempelajari dan mendalami bahasa arab, di tambah lagi dengan sangat berkembangnya bahasa arab saat ini yang menjadikan bahasa arab sebagai salah satu bahasa internasional. Bahkan sudah banyak sekolah-sekolah yang menjadikan bahasa arab sebagai pelajaran wajib dalam kurikulumnya. Dalam bahasa arab, tidak bisa di elakkan lagi bahwa qawaid memegang peranan sangat penting di dalamnya. Terutama nahwu dan shorof. Karena qawaid menentukan bagaimana cara kita memahami bahasa tersebut dan membuat orang lain paham dengan apa yang kita ucapkan. Ilmu shorof membahas tentang perubahan ditengah kata dari bentuk satu ke bentuk yang lain, dimana pada masing-masing bentuk tersebut mempunyai makna yang berbeda-beda. Oleh karena itu, tanpa ilmu shorof kita tidak akan bisa memahami bahasa arab dengan baik.

    BAB II

    PEMBAHASAN

    1. Wazan

          Wazan, ialah kata yang menjadi timbangan yang dicetak dari fa’. ‘ain, dan lam pada fi’il tsulasi dan fa’, ‘ain, lam fi’il yang pertama pada lam fi’il kedua fi’il ruba’I secara berurutan. Kegunaan wazan adalah untuk menimbang kalimat lain agar bisa diketahui huruf asli dan huruf tambahannya. Huruf asli adalah huruf yang sejajar dengan fa’. ‘ain. Dan lam fi’ilnya wazan. Huruf tambahan adalah huruf yang tidak sejajar dengan fa’,‘ ain, dan lam fi’ilnya wazan.

    Dalam bab tashrif di ilmu sharaf, wazan dibagi menajadi beberapa kategori, yaitu:

    1. Tsulasi Mujarod (fiil yang tersusun dari tiga huruf saja tanpa ada pengulangan huruf/tambahan huruf), wazan-wazan dari Tsulasi Mujarod dibagi menjadi enam bab, sebagai berikut:

    Fa’ala -  yaf’ulu

    Fa’ala – yaf’ilu

    Fa’ala – yaf’alu

    Fa’ila  - yaf’alu

    Fa’ula – yaf’ulu

    Fa’ila – yaf’ilu

    Perubahan harakat pada ‘ain fi’il setiap kata dalam keenam bab tersebut adalah pembagian pola resmi yang bisa digunakan dalam merubah bentuk setiap kata dalam bahasa Arab.

     

    1. Tsulasi Mazid Ruba’I (fi’il yang tersusun dari tiga huruf asli dan satu huruf tambahan, sehingga menjadi empat huruf atau Ruba’I ) wazan-wazan dari Tsulasi Mazid Ruba’I adalah sebagai berikut :

    Af’ala – yaf’ilu

    Faa ‘ala – yufaa ‘ilu

    Fa’ala – yufa’ilu

    Jika kita perhatikan wazan wazan di atas, sebenaranya ada tiga huruf asli (fa’ala) dan tambahan satu huruf (baik itu hamzah seperti di wazan pertama, alif di wazan kedua, atau mudlo’af / pengulangan ‘ain fi’il pada wazan ketiga yang ditandai dengan tasjid) dan akhirnya disebut Tsulasi Mazid Ruba’i.

     

    1. Tsulasi Mazid Khumasi (fi’il yang tersusun dari tiga huruf asli dan dua huruf tambahan, sehingga menjadi lima huruf / khumasi ). Wazan-wazan dari Tsulasi Mazid Khumasi adalah sebagai berikut:

    Tafaa’ala – yatafaa’alu

    Infa’ala – yanfa’ilu

    Tafa’ala – yatafa’alu

    Ifta’ala – yafta’ilu

    If’alla – yaf’allu

    Masih sama dengan tsulasi mazid lainnya, karena wazan-wazan diatas adalah tsulasi maka tetap ada tiga huruf asli disana, dank arena ini mazid khumasi , maka ada dua huruf tambahan disana.

     

    1. Tsulasi mazid sudasi (fi’il yang tersusun dari tiga huruf asli dan mendapatkan tiga huruf tambahan ), wazan-wazan dari Tsulasi Mazid Sudasi adalah sebagai berikut:

    Istaf’ala – yastaf’ilu

    If’alla – yaf’allu

    If’aw’ala – yaf’aw’ilu

    If’anlaa – yaf’anlii

    If’awwala – yaf’awwilu

    Pembagian tsulasi yang terakhir adalah Tsulasi Mazid sudasi, masih tetap sama karena ini adalah Tsulasi , maka huruf aslinya adalah tiga, dan terdapat tiga huruf tambahan sehingga menjadi sudasi.

     

    1. Ruba’I Mujarrod (fi’il yang tersusun dari empat huruf asli tanpa huruf tambahan). Hanya terdapat satu bab saja yaitu:

    Fa’lala – yufa’lilu

    Wazan diatas tersusun dari empat huruf asli, tanpa ada tambahan apapun.

     

    1. Ruba’I Mazid Khumasi (fi’il yang tersusun dari empat huruf asli dan satu tambahan huruf sehingga menjadi khumasi ). Fi’il ini juga hanya mempunyai satu bab yaitu:

    Tafa’lala – yatafa’lilu

    Terdapat satu huruf tambahan yaitu “ta”

    1. Ruba’I Mazid Sudasi (kata yang tersusun dari empat huruf asli dan dua huruf tambahan ). Terdapat dua bab yaitu :

    If’anlala – yaf’anlilu

    If’alalla – yaf’alillu

     

    Bab yang pertama mendapat huruf tambahan “ hamzah dan nun “ sedangkan bab kedua mendapatkan huruf tambahan “hamzah dan tasjid “

     

    1. Mauzun

          Mauzun adalah kalimat yang ditimbang dengan wazan (kalimat yang tidak mengumpulkan fa’, ‘ain, dan lam secara berurutan).Kegunaan mauzun adalah untuk mencocokan kalimat yang tidak ada dalam kitab tashrif. Berikut ini adalah contoh mauzun dari setiap wazan diatas:

    وَعَدَ-يَعِدُ فَعَلَ-يَفْعَلُ

    فَتَحَ-يَفْتَحُ

    وَضَعَ-يَضَعُ

    فَعِلَ-يَفْعَلُ

    عَلِمَ-يَعْلَمُ

    وَجِلَ-يَوْجِلُ

    فَعُلَ-يَفْعُلُ

    حَسُنَ-يَحْسُنُ

    شَجُعَ-يَشْجَعُ

    Tsulasi Mazid Ruba'i ﺃَﻓْﻌَﻞَ-يُفْعِلُ

                                                                                                    أَكْرَمَ-يُكْرِمُ

    أَوْعَدَ-يُوْعِدُ

    ﻓَﺎﻋَﻞَ-يُفَاعِلُ 

    قَاتَلَ-يُقَاتِلُ

    وَاعَدَ-يُوَاعِدُ

    ﻓَﻌَّﻞَ-يُفَعِّلُ

    كَرَّرَ-يُكَرِّرُ

    بَشَّرَ-يُبَشِّرُ

    Tsulasi Mazid Khumasi  ﺗَﻔَﺎﻋَﻞَ-يَتَفَاعَلُ

    تَبَاعَدَ-يَتَبَاعَدُ

    تَبَايَنَ-يَتَبَايَنُ

    ﺍﻧْﻔَﻌَﻞَ-يَنْفَعِلُ

    إنْكَسَرَ-يَنْكَسِرُ

    إنْطَلَقَ-يَنْطَلِقُ

    ﺗَﻔَﻌَّﻞَ-يَتَفَعَّلُ

    تَكَسَّرَ-يَتَكَسَّرُ

    تَيَسَّرَ-يَتَيَسَّرُ

    ﺍﻓْﺘَﻌَﻞَ-يَفْتَعِلُ

    إجْتَمَعَ-يَجْتَمِعُ

    إِتَّصَلَ-يَتَّصِلُ

    ﺍﻓْﻌَﻞَّ-يَفْعَلُّ

    إحْمَرَّ-يَحْمَرُّ

    إسْوَدَّ-يَسْوَدُّ

    Tsulasi Mazid Sudasi ﺍﺳْﺘَﻔْﻌَﻞَ-يَسْتَفْعِلُ

    إسْتَخْرَجَ-يَسْتَخْرِجُ

    إسْتَجَابَ-يَسْتَجِيْبُ

    ﺍﻓْﻌَﺎﻝَّ-يَفْعَالُّ

                                                                                                 إحْمَارَّ-يَحْمَارُّ

    إسْفَارَّ-يَسْفَارُّ

    Ruba'i Mujarrod ﻓَﻌْﻠَﻞَ-ﻳُﻔَﻌْﻠِﻞُ

    دَحْرَجَ-يُدَحْرِجُ

    تَرْجَمَ-يُتَرْجِمُ

    Ruba'i Mazid Khumasi ﺗَﻔَﻌْﻠَﻞَ-يَتَفَعْلِلُ

    تَدَحْرَجَ-يَتَدَحْرَجُ

    تَجَلْبَبَ-يَتَجَلْبَبُ

    Ruba'i Mazid Sudasi ﺍﻓْﻌَﻨْﻠَﻞَ-يَفْعَنْلِلُ إحْرَنْجَمَ-يَحْرَنْجِمُ ﺍﻓﻌَﻠَﻞَّ-

    يَفْعَلِلُّ إطْمَأَنَّ-يَطْمَئِنُّ

     

    1. Tashrif

         Tashrif adalah perubahan kata dari bentuk asal (kata kerja) menjadi bentuk-bentuk yang lain. Ilmu sharaf  juga sering disebut dengan ilmu tashrif  karena inti ilmu sharaf adalah mempelajari tashrif[1][1]. Secara etimologi berarti mengubah, sedangkan menurut istilah adalah mengubah bentuk asal kepada bentuk-bentuk yang lain untuk mencapai arti yang dikehendaki yang bisa tercapai dengan adanya perubahan atau dengan kata lain ialah merubah dari fi’il mudhari, isim, fa’il, isim maf’ul, fi’il na’hi, isim makan, isim zaman, dan isim alat[2][2].

    Secara umum, suatu kata kerja berubah menjadi jenis perubahan kata sebagai berikut:

    1. Fi'il Madhy (kata kerja lampau)
    2. Fi'il Mudhari (kata kerja sekarang)
    3. Mashdar (kata benda, kata dasar)
    4. Isim Faa'il (subjek, pelaku)
    5. Isim Maf'ul (objek)
    6. Fi'il Amar (kata kerja perintah)
    7. Fi'il Nahiy (kata kerja larangan)
    8. Isim Zaman (kata penunjuk waktu),
    9. Isim Makan (kata penunjuk tempat),
    10. Isim Alat (nama alat).

     

     

    Maksud dan tujuan dari perubahan ini adalah agar memperoleh makna atau arti yang berbeda. Dari perubahan satu bentuk ke bentuk lainnya di dalam ilmu shorof dinamakaan shighot, dengan mempelajari tashrif kita akan dapat membuat al-Mustaqqat yang dalam bahasa Indonesia disebut  “kata jadian” sedang membuat al-Mustaqqat adalah “tasrifan”.

    Jika dalam bahasa Indonesia kemampuan berbicara seseorang ditentukan pula oleh kemampuannya dalam membuat kata jadian dari sebuah asal kata. Contoh asal kata yaitu tulis menjadi : dan sebagainya.

     

    لنهي فعل

    مر ا فعل

    مفعل سم ا

    ا سم فاعل

    مصد ر

    فعل  ا لمضا ر ع

    فعل الما ضي

    لاَ تَسْكُتْ

    اُ سْكُتْ

    مَسْكُوْ تٌ

    سَا كِتٌ

    سُكُوْ تًا

    يَسْكُتُ

    سَكَتَ

    Jangan kamu diam!

    Diamlah!

    Yang

    Diam

    Pendiam

    Kediaman

    Sedang diam

    Telah Diam

    لاَ تَقْتُلْ

    اُ قْتُلْ

    مَقْتُوْ لٌ

    قَا تِلٌ

    قَتْلَا

    يَقْتُلُ

    قَتَلَ

    Jangan Kamu Bunuh!

    Bunuhlah!

    Yang dibunuh

    Pembunuh

    Pembunuhan

    Sedang Membunuh

    Telah Membunuh

    لاَ تَنْظُرْ

    اُنْظُرْ

    مُنْظُورُ

    نَا ظِرُ

    نَظْرًا

    يَنْظُرُ

    نَطَرَ

    Jangan Melihat!

    Lihatlah!

    Yang dilihat

    Yang Melihat

    Penglihatan

    Sedang Melihat

    Telah Melihat

     

     

    Macam-macam dan Contohnya

    Di dalam ilmu tashrif ada dua jenis:

    1. Tashrif Ishtilahy ( حِيصْطِلَالإِايْفَالتَصْرِ)

    Tashrif ishthilahy adalah perubahan kata yang didasarkan pada perbedaan bentuk katanya.Perubahan bentuk dari bentuk asli (fi’il madhy) ke bentuk mashdar, isim fa’il hingga fi’il amar adalah yang dimaksud dengan tashrif  ishthilahy. Untuk lebih memahami tashrif ishthilahy.

    Perhatikanlah contoh tashrif  ishthilahyuntuk kata ”menulis” (كَتَبَ)

    Tashrif isthilahy

    Arti

    كَتَبَ

    Telah menulis (dia laki-laki)

    يَكْتُبُ

    Sedang menulis (dia laki-laki)

    كِتَابَةً

    Tulisan

    كَاتِبُ

    Penulis

    مَكْتُوْبٌ

    yang ditulis

    اُكْتُبْ

    tulislah!

    لَاتَكْتُبْ

    jangan kau tulis!

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     



    1. Tashrif Lughawi (ياللُّغَوِيْقُتَّصْرِا)

    Tashrif lughawi adalah perubahan kata yang didasarkan pada perubahan jumlah dan jenis  pelakunya[3][3]. Perubahan Tashrif lughawi  ke bentuk kata dan jenis-jenis yang berbeda berdasarkan jumlah (mufrod, tatsniyah, jamak) dan jenis (mudzakkar, muannats) pelakunya. Setiap bentuk kata (fi’ilmadhy hingga fi’il amar) memiliki tashrif lughawi tersendiri.Tashrif lughawi ada 14 dhomir yang terbagi atas 5 bagian yaitu :

    1. Orang ketigalaki-laki atau dia laki-laki (الغَاءِبْ )
    • satu orang laki-laki (mufrad) = فَعَلَ - هُوَ
    • Dua orang laki-laki ( musanna) = فَعلاَ - هُمَا
    • Banyak laki-laki (jamak) = فَعَلُوْا – هُمْ

     

    1. Orang ketiga perempuan atau dia perempuan (الغَاءبَة )
    • satu orang perempuan (mufrad) = فَعَلَتْ – هِيَ
    • dua orang perempuan ( musanna) = فَعَلْ تاَ– هُمَا
    • banyak perempuan (jamak) = فَعَلنَ- هُنَّ

     

    1. Orang kedua laki-laki atau kamu laki-laki ( مُخطب)
    • satu orang laki-laki (mufrad) = (فَعَلت – انْتِ )
    • Dua orang laki-laki ( musanna) = (فَعَلتُمَ – انْتُمَ )
    • Dua orang laki-laki ( musanna) = (فَعَلتُمْ – انْتُمْ )

     

    1. Orang kedua perempuan atau kamu perempuan (مُحَا طَبَة )
    • satu orang perempuan (mufrad) = (فَعَلْتِ – انْتِ )
    • dua orang perempuan ( musanna) = (فَعَلْتُمَا – انتُمَ )
    • banyak perempuan (jamak) = (فَعَلْتُنَّ – انتُنَّ )

     

    1. Orang pertama (مُتَكَلِمْ )
    • saya = اناَ
    • kami, kita = نحنُ

     

    Contohnya,

    Tashrif lughawi untuk ”penulis”  (كاَتِبٌ) ditunjukkan oleh tabel berikut:

     

    Tashrif lughawi

    Arti

    كاَتِبٌ

    كَاتِبَيْنِ / كَاتِبَانِ

    كَا تِبِيْنَ   / كَا تِبُوْ نَ

    Penulis laki-laki (tunggal)

    Penulis laki-laki (ganda)

    Penulis laki-laki (jamak)

    كَايِبَةٌ

    كَاتِبَتَيْنِ / كَاتِبَتَانِ

    كَاتِبَاتٌ

    Penulis wanita (tunggal)

    Penulis wanita (ganda)

    Penulis wanita (jamak)

     

    Contoh Tashrif dalam kalimat

     

    Mudhari

     

     Ahmad Sedang menulis dipapan tulis          =        يَكتُبُ   احْمَدُ فِى سَبُوْ رَ ةٌ

     

    Madhi

    Ahmad Telah menulis dipapan tulis           =          ةٌاحْمَدُ فِى سَبُوْ رَكَتَبَ

     

    Mudhari

    Zaid sedang pergi ke Surabaya     =            زَ يْى دُ اِلىَ سُرَ بَيَيَدْ هبُ

     

    Madhi

    Zaid telah pergi ke surabaya           =          دَهَبَ زَ يْدُ اِلىَ سُرَ بَيَ

     

     

     

     

    BAB III

    PENUTUP

     

    1. Kesimpulan

    Setelah penulis berusaha merangkum bebarapa materi yang membahas tentang teori telaah dalam pelajaran bahasa arab di sekolah khususnya pada jenjang MTS dan MA maka kini penulis akan menyimpulkan beberapa kesimpulan mengenai pembahasan diatas diantaranaya;

    1. Wazan

          Wazan adalah kata yang menjadi timbangan yang dicetak dari fa’. ‘ain, dan lam pada fi’il tsulasi dan fa’, ‘ain, lam fi’il yang pertama pada lam fi’il kedua fi’il ruba’I secara berurutan. Kegunaan wazan adalah untuk menimbang kalimat lain agar bisa diketahui huruf asli dan huruf tambahannya. Huruf asli adalah huruf yang sejajar dengan fa’. ‘ain. Dan lam fi’ilnya wazan. Huruf tambahan adalah huruf yang tidak sejajar dengan fa’, ‘ ain, dan lam fi’ilnya wazan.

    1. Mauzun

          Mauzun adalah kalimat yang ditimbang dengan wazan (kalimat yang tidak mengumpulkan fa’, ‘ain, dan lam secara berurutan). Kegunaan mauzun adalah untuk mencocokan kalimat yang tidak ada dalam kitab tashrif

    1. Tashrif

          Adalah perubahan bentuk ke bentuk yang lain, memiliki dua macam yaitu istilahy dan lughowi.tasrif istilahi adalah perubahan kata dari satu bentu ke bentuk yang lain , dari fi’il madhi ke fi’il mudhari. Sedangkan tashrif lughowi adalah perubahan satu bentuk kata yang sama berdasarkan isim dhomir atau jumlah dan jenisnya berbeda.

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

    DAFTAR PUSTAKA

     

    Abu Shalih, Badrudin, al-madkhal ila al-Lughah al-Arabiyah, Beirut : Dar al- Syaraq al Arabi,tanpa tahun, Cet. Ke-2

    Razin,Abudan Ummu Razin.2010. Ilmu Sharaf Untuk Pemula(offline).Jakarta: Maktahab www.arabic.web.id

    “Bahasa Arab Dasar (offline)”.[Internet Blog].Tersedia pada:http://pustakaabumuazzam.blogspot.com

    http://mynewblogduniaremaja.blogspot.com/2015/05/tashrif.html diunduh pada hari Jum’at 10 April 2020 pada pukul 16.00 WIB

    teknologilukman.blogspot.com/2015/05/pengertian-wazan.htmldiunduh pada hari Jum’at 10 April 2020 pada pukul 16.40 WIB